Ojo Nganti Kepaten Obor

Ketika belajar terbang di Sekolah Perwira Penerbang AURI di Maguwo, Yogyakarta tahun 1945, kami betul-betul dikejar waktu sebab sedang bermusuhan dengan pihak Belanda. Semuanya dikerjakan dalam tempo yang cepat.
Semua instruktur penerbang adalah bekas didikan Belanda, malah yang satu baru kembali dari Australia. Semua instruksi dan pelajaran teori kebanyakan dilaksanakan dalam bahasa Belanda dan Inggris. Sebagai contoh, dalam latihan yang disebut “Touch and Go” setiap habis take-off, instruktur akan memberi aba-aba “Lingkerhand” untuk membuat Lefthand Circuit atau “Rechterhand” untuk membuat Righthand Circuit.
Kadet udara Goen, agaknya kurang menyimak sewaktu Pre-Flight Briefing, sehingga salah faham. Kalau ada aba-aba Lingkerhand maka dia kira diperintahkan untuk terbang dengan tangan kiri, sehingga untuk menunjukkan bahwa dia tidak curang, dan terbang dengan tangan kiri, maka diacungkan tangan kanannya tinggi-tinggi di atas kepalanya sampai mereka mendarat kembali, begitu pula sebaliknya. Instrukturnya sampai tidak tahu harus menertawai atau memarahinya.
Catatan :
Badan pesawat Churen yang kami pakai sebagai primary/basic trainer terdiri atas kerangka metal dan kayu yang dibalut dengan kain khusus (vliegtug linen) yang disemprot dengan aceton biar kencang (“strak”) dan kemudian dicat.
Menjelang tahun 1947, persediaan kain khusus tersebut dan acetonnya mulai menipis. Bagian teknik menemukan cara untuk mengatasinya yang pada awalnya kelihatan sebagai pemecahan yang baik : vliegtuig linen diganti dengan “kain blaco”, sebuah kain sederhana produksi dalam negeri sendiri, sedangkan aceton diganti dengan lem hasil rebusan kikil dan cingur kerbau.
Percobaan pertama berhasil bagus, penampilan blaco yang telah dilabur dengan lem dan kemudian disemprot cat, tampak kencang dan tidak kendor. Test flight yang saya lakukan berhasil baik.
Keesokan harinya saya ditugaskan menerbangkan pesawat tersebut ke pangkalan udara Tasikmalaya. Waktu sore harinya terbang kembali ke Maguwo cuacanya jelek dan saya terpaksa menerobos masuk hujan.
Apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan saya. Kain blaco yang membungkus badan dan sayap pesawat yang tadinya begitu ketat dan licin, berangsur-angsur mengendor dan akhirnya bergetar dengan keras dan menggelepar dengan suara yang mengerikan. Agaknya lem “kikil kerbau” itu meleleh akibat terkena air hujan sehingga kain blaconya menjadi “molor” dan balutannya menjadi renggang.
Untuk mencegah robeknya kain blaco tersebut, saya terpaksa “throttle down” (mengurangi tenaga) mesin pesawat untuk menurunkan kecepatan dan semburan angin baling-baling.
Dengan “cruising speed” yang sangat berkurang dan sambil terus berdoa sepanjang jalan, satu jam kemudian saya berhasil mendarat dengan selamat di Maguwo.
Tahun 1951-1953
Setelah semua Perwira Penerbang AURI yang ada di luar negeri (enam penerbang eks Indonesian Airways di Burma dan enam belas orang kadet lulusan India) pulang semua, didirikanlah Sek. Bang. II di Andir.
Para instruktur adalah eks penerbang-penerbang US Air Force di bawah koordinasi Captain Beamer. Semua penerbang lulusan Sek. Bang. I Maguwo yang belum penah dapat kesempatan pendidikan terbang lanjutan dan semua kadet lulusan India (dengan License PPL dan rating Piper Club dan Chipmunk) diharuskan mengikuti pendidikan di Sek. Bang. tersebut.
Latihan berlangsung secara ketat dan berat sekali, baik latihan fisik maupun latihan terbangnya (seperti yang dapat kita lihat dalam film-film pendidikan US. Air Force).
Kita berenam penerbang eks. Indonesian Airways (Sudaryono, Soetardjo Sigit, alm. Bob Budiarto, alm. Don Samsudin Noor, Dick Soeharsono Hadinoto, Lippy Soesetyo) tidak perlu masuk Sek. Bang. II tersebut diatas karena kami sudah berhasil mendapatkan Pilot B License dari Burma yang setingkat dengan SCPL (Senior Commercial Pilot License) dengan type-rating Douglas DC-3/C-47 “Dakota”.
Anekdot 1 :
Latihan “Touch and Go” adalah latihan take off terus mendarat dan meluncur untuk take off lagi, begitu seterusnya berulang-ulang.
Letnan Kus adalah salah satu dari “weak brothers” yang agak kesukaran melakukan latihan tersebut tapi jago “debat kusir”.
Dia sering “level off” pesawatnya terlampau tinggi sehingga pesawat “stall” dan jatuh tercampakkan ke tanah dengan benturan yang keras (pan-cake landing).
Setelah mendarat, instrukturnya yang jengkel menegurnya dengan keras :
“Lieutenant Kus, you did it again just now !”
“Pardon Sir ?”
“You leveled off too high again, didn’t you ?”
“No Sir ! The ground was too low !”
Anekdot 2:
Pada saatnya para penerbang itu dilatih “Aerobatic” sebagai persiapan terbang operasional. Mereka dilatih terbang “follow the leader” atau disebut juga “rat-race” yaitu instrukturnya terbang melakukan bebagai maneuver seperti : loop, roll, wing over, Immelman, lazy eight, spin dan lain sebagainya. Tiga atau empat orang kadet yang terbang berurutan dibelakangnya harus mengikuti setiap maneuver dengan ketatnya. Lagi-lagi Letnan Kus. terbang “keteteran” tidak mampu mengikutinya dengan baik dan ketat, sehingga “rat-race”nya menjadi kacau”.
Setelah mendarat instrukturnya menegur :
“Lieutenant, because of your clumsiness, our rat-race was fouled up. What’s wrong with you anyway ?”
“It is because I am no rat, Sir !”.
Bogor, 5 Agustus 2001
Soetardjo Sigit